Mungkin banyak manusia yang terjerumus dalam kenikmatan cinta. Kenikmatan ini memang timbul dari ungkapan cinta terhadap sesuatu yang dapat mengakibatkan bentuk kefanatikan dan pembelaan sehingga melupakan entitas yang lain selain dari yang dicintainya. Kefanatikan ini kemudian ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan yang berlebihan dan bahkan di luar nalar kemanusiaan, yang malah mengeluarkan fungsi sebenarnya dari potensi cinta yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Jika cinta dilakukan dengan cara yang berlebihan maka akan mengakibatkan kesakitan, keterikatan, menjadi pembelenggu, kesengsaraan, menyebalkan dan bahkan kematian yang tidak wajar. Jangankan Cinta, rosul-pun memperingatkan umatnya jika beribadah dilakukan dengan berlebihan. Kegiatan apapun jika dilakukan dengan berlebihan, maka akan keluar dari fungsi dan konteks aslinya. Allah telah mengetahui potensi dan kemampuan, maka berbuatlah sesuai dengan ketentuan-Nya.
Manusia cenderung lupa bahwa kelahirannya ke dunia disambut oleh cinta-cinta yang sebelumnya sudah bertebaran terlebih dulu. Perbuatan bapak, ibu, saudara, kakek, Nenek dll. Sangat mendukung kita dalam lahir untuk mengambil bagian dari alam ini. Kita tidak mungkin lahir ke dunia jika tidak ada rasa cinta yang menyambut kehadiran kita. Mungkin ibu kita sudah melakukan aborsi, jika di hati mereka tidak tertanam rasa cinta dalam menyambut kehadiran anaknya. Mungkin bumi akan menelan kita sebelum kita dilahirkan, jika alam menanti kehadiran kita dengan kemarahannya. Untuk itulah, manusia adalah bagian dari alam, dan alam pasti punya kasih sayang (cinta) untuk dapat dijadikan partner kehidupan yang indah dan berdampingan.
Cinta Manusia
Sangat disayangkan dan menyayangkan jika anugerah terindah dari Allah yang menghiasi dunia yaitu Cinta telah diperkosa oleh para pujangga-pujangga yang tidak bertanggung jawab, (ma'af) bukan bermaksud menghina mereka yang terlibat cinta. Obralan, buaian dan keberhasilan mereka dalam merajut kata-kata telah banyak membawa korban percintaan. Hanya gara-gara kedipan, senyuman, ungkapan dan aksi biologis yang lain, orang dengan mudah mengatakan “aku cinta kamu”.Sebenarnya yang paling tepat seperti halnya yang dikatakan oleh Aa'gym bukan aku cinta kamu namun (maaf) “aku nafsu kamu”. Inilah yang jauh lebih banyak beredar di pasaran dari pada arti sesungguhnya dari aku cinta kamu. Nafsuku yang telah bersandar pada dirimu, yang telah menuntun getaran bibir untuk mengatakan bahwa aku cinta kamu.
Sungguh sangat sedikit cinta manusia yang tidak dilandasi atas kebutuhan duniawi atau disebut sebagai landasan cinta. Dasar cinta pasti ada pada seorang pengekspresi cinta. Saya cinta kamu karena ..(sesuatu). Inilah yang disebut sebagai cinta karena sebab. Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu, (ma'af)entah berupa ketampanan parasmu, kekayaanmu, latar belakangmu dll. Yang jelas kamu harus membawa manfa'at bagi-ku, karena ada sesuatu yang harus aku dapatkan darimu. Semua ini berlandaskan pada nafsu, yang berwujud pada harta, tahta dan sex.
Lalu dimana istilah cinta (cinta tulus)? Kalau semua disandarkan pada nafsu. Maka yang ada hanyalah pembohong dan penghianat cinta. Kami lebih rela mengatakan aku nafsu kamu kerena kecantikanmu, hartamu dll. Ungkapan seperti inilah yang lebih mengekspresikan akan ketulusan hati sang pecinta, dari pada hanya mengeksploitasi cinta. Ini lebih bermakna dan mengena pada proses ketulusan menuju cinta.
Tebaran cinta selama ini mengindikasikan bahwa cinta sebenarnya telah mati (innalillah). Kematian yang menyedihkan dikarenakan pemilik cinta telah menjual begitu rendah harga dan derajatnya (masya Allah). Bukan mengaplikasikan dan menebarkan cinta, malah membungkus dan membuang cinta pada keranjang sampah kehinaan dan cinta yang ditebarkan hanya merupakan kedok-kedok cinta. Laknat bagi mereka yang telah mempolitisir cinta (ma'af pengonani cinta). Anugerah penghias dunia dirubah menjadi perusuh, penyebab konflik, peresah dan pengacau dunia.
Coba kita mendudukkan cinta sebagai onderdil mulya yang benar-benar menjadi amanat illahiyah. Ingat bahwa cinta bukan hanya milik seorang, kamu, aku atau dia, namun semua manusia, binatang, benda dsb, berhak mendapatkan pancaran cinta yang kita miliki. Allah menurunkan cinta ke dunia untuk dijadikan keindahan bagi pemegang otoritas cinta.
Cinta yang disarangkan pada satu obyek saja, merupakan kesalahan besar dalam mengaplikasikan cinta. Kita hidup adalah milik umum, kita dilahirkan ke dunia bukan hanya untuk bapak, ibu, ataupun kekasih bahkan untuk pribadi, namun semua berhak untuk mencinta dan memiliki kita. Kita adalah bagian dari alam dan alam adalah bagian dari kita. Kita tidak terlepas dari realitas alam dan alam jelas bukan terdiri dari manusia saja. Cinta kita pada kekasih telah menyempitkan makna, seolah-olah hidup hanya untuk si dia. Aku tak kan sanggup melanjutkan putaran dunia ini tanpa kau sebagai pengawal dan pendampingku." hampa terasa hidupku tanpa dirimu;(Ari Lasso)",”tak kan pernah ku teteskan buturan air mata kecuali untuk cinta (Rhoma),ungkapan inilah yang disebut atau dinamakan sebagai pendusta cinta.
Mungkinkah kita dilahirkan Just for him, for her or for it. Jawabnya jelas tidak, but for All. Kita tidak akan pernah lahir tanpa kasur, bantal, selimut, makanan, ibu, Bapak, Negara, Bahasa, Mbah dukun dan berjuta-juta lainnya yang tak dapat disebut lagi. Keterikatan kita pada realitas alam tidak terpisahkan, maka mereka berhak mendapatkan biasan cinta kita.
Cinta tidak kenal wilayah prioritas, hanya ataupun prosentase. Siapapun dan apapun perlu kita cintai, tidak 100%, 50%, 10% atau persen-persen yang lain. Semua sama, sayang kita pada seorang kekasih akan sama dengan kita sayang kepada batu, kasih dan perhatian kita pada kekasih akan sama kasih dan perhatian kita pada kucing. Bukannya kita mempersamakan antara manusia dengan kucing ataupun batu, namun hak mereka atas cinta sebagai anugerah Tuhan-lah yang sama. Maka setidaknya perlu kita pikir dan rasakan ulang bahwa kenapa kita harus stress tak dapat makan dan minum bahkan bunuh diri hanya karena kehilangan satu alokasi cinta (kekasih). Betapa hinanya hidup ini! Wallahu 'alam.
Sudah jelas bahwa, tiada daya kita mendistorsi makna cinta, kalau kita tidak ingin sesat oleh cinta yang kita guna-guna.
Banyak misteri yang harus diungkap pada cinta, apabila hati seseorang telah jatuh cinta, maka akan condong kepada yang dicintainya dan berusaha mendekatinya serta berjuang untuk meraihnya dengan berbagai cara. Sedangkan sisi lain ketika ada seseorang atau setiap apapun yang menghalangi atau merusak cintanya, maka mereka akan membencinya. Orang yang mempunyai rasa cinta terhadap kebersihan, pasti membenci kekumuhan. Sehingga ketika seorang membenci sesuatu, maka di batinnya atau terbit keinginan untuk mencoba melenyapkannya.
Cinta merupakan suatu kehidupan, bagi seseorang yang dianggap mati karena terhalangi olehnya. Ia merupakan cahaya bagi seseorang yang berada dalam lautan kegelapan, karena kehilangannya. Ia adalah dukun bagi orang-orang mistis, yang karena ketiadaanya seluruh penyakit bersarang, kesialan dan celaka akan terjadi. Ia juga merupakan fasilitas kebahagiaan yang jika seseorang tidak mendapatkannya maka hidupnya berarti kepedihan dan penderitaan.
Cinta adalah anugrah, karena merupakan anugrah maka sifatnya adalah agung. Cinta sejati akan menerima segala kekurangan-kekurangan, Siap berkorban dan tanpa pamrih. Seseorang yang benar-benar mencintai akan menjaga orang yang dicintai dengan sebaik-baiknya. Itulah cinta sejati, yang tidak hanya berlaku dalam konteks kemanusiaan, namun juga berlaku pada konsep ketauhidan (cinta kepada Allah)
Bagaimana Cinta kepada Allah
Rasa tresno mareng (kepada) Allah biasa didefinisikan sebagai Cinta yang tidak bisa dipisahkan oleh sesuatu apapun baik ruang maupun waktu. Cinta seperti hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT.
Cinta kepada Allah SWT harus ada pada tataran tertinggi dalam hati kita, yakni menjadi tujuan dan prioritas utama dalam hidup kita. Karena Allah-lah yang menciptakan kita, memberikan kehidupan kepada manusia, sehingga tidak sepatutnya seluruh perasaaan dan tindakan kita hanya untuk Allah semata.
Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Ibnu Arabi "Tidak ada yang mencinta dan dicinta kecuali Allah" (Wlian C. Clitic:2002). Perlu diperhatikan bahwa semua yang ada di kehidupan ini tidak ada yang abadi selamanya, sehingga imbas cinta dunia ini bersifat semu. Itulah hakikat cinta.
Ibnu Arabi terlebih Rumi, selalu mengingatkan para pembacanya bahwa cinta kepada mahluk harus merupakan cinta kepada Allah SWT. Hanya kebodohanlah yang menghalangi manusia dan memahami hakikat cinta.Cinta kepada Allah SWT dengan cinta kepada-Nyalah kita akan mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya di akhirat kelak.
Orang yang mencintai Allah SWT tidak akan pernah terpisah dari kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat, ketika cinta mereka telah sempurna, si pecintapun hidup dalam kebahagiaan merasakan penyatuan diri mereka dengan Yang Esa, yang mencintai dan dicintai. Mereka akan mendapatkan manisnya cinta labih dari apapun, yaitu kenikmatan surgawi, kebahagiaan seperti itulah yang akan membangkitkan semangat orang-orang yang mencintai Allah SWT untuk terus berjalan manuju kebenaran ilahi yakni dapat diimplementasikan dengan sikap atau perilaku yag terpuji.
Kritik atas cinta sufi
Ada sebuah pertanyaan besar, ketika kita dapat mmengamati fenomena social yang berada dalam masyarakat agamis sufistik. Seperti halnya pemahaman cinta yang dipandang dari sebagian versi tasawuf. Problem besar selama ini dari kecenderungan tasawuf adalah menjadikan mereka lebih memilih orientasi kehidupan akhirati dan melepaskan diri dari kehidupan realisme, dengan menganggap dunia dan isinya tiada artinya dan bahkan mereka meninggalkan kehidupan dunia yang sebenarnya merupakan tanggungjawab dari setiap manusia untuk memikul beban amanat dari Tuhan SWT.
Setiap tindak-tanduk para sufi, semuanya bermuara pada bentuk cinta yang mendalam terhadap kekasih tercintanya, yang paling layak untuk dicintai yaitu Allah. Sehingga konsekuensi apresiasi dari model pengungkapan cinta mereka setidaknya menjadi biang dari karakteristik kehidupan social para sufi, yang berbentuk pada orientasi akhirat an sich dan menafikan interaksi social dan segala problem masyarakat. Hal ini terlepas dari model tasawuf mana yang lebih benar dan salah (tasawuf falsafi atau sunni) dalam merepresentasikan Islam ketika hal tersebut coba untuk dipahami dari seseorang dengan latar belakang kemampuan dan interpretasi yang berbeda. Namun jelas tasawuf yang beredar dipasaran masih memperlihatkan perilaku normative ketasawufan sebagaimana dijelaskan di atas.
Dan inilah kedudukan cinta yang perlu dipertanyakan, ketika ada pemahaman mayoritas menyebutkan bahwa kedudukan cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT. Di dalam kenyataanya, cinta kepada Allah dan cinta kepada yang lain mempunyai kadar yang sama dan akan berimbas pada kehidupan yang sama pula. Artinya, cinta kepada Allah (sebagaimana yang dilakukan sebagian tasawuf) juga dapat mengakibatkan kita terlalu fanatic parsial terhadap Allah secara zat, dan kefanatikan itu tidak berimbas pada dimensi-dimensi kehidupan kita yang lain dalam mewujudkan civil society. Sama halnya dengan cinta terhadap seorang kekasih. Ketika sudah terbius dengan kecantikan atau ketampanan, terbius dengan untaian kata-kata yang indah sehingga meniang tiada hilang bagai bunyi terompet sangkakala. Sehingga ungkapan bagaikan firman, perlu dita'ati dan dipatuhi, lupa akan komunitas disekitar sehingga kehidupan manjadi lebih egois. Bias dan pancaran aura kemanfaatan manusia tiada lagi. Hidup hanya untuk diri sendiri, tidak peduli dengan penderitaan orang lain, tidak peduli dengan teriakan alam yang butuh pertolongan, cuek akan segalanya, yang penting saya bahagia ketika kencan dengan kekasih saya. Kekasih dalam hal ini, tidak terbatas dan terfokus pada satu obyek apakah Tuhan, manusia, hewan dan lain-lain. Karena kekasih merupakan obyek atau sasaran dari cinta, jikalau cinta sudah dapat menyusupkan kita pada penyempitan dunia dan makna hidup, maka sesungguhnya cinta yang satu ini telah menjadi penyakit besar yang sukar diobati.
Fungsi manusia sebagai kholifah fil arrdhi jelas bukan merupakan anjuran untuk kita bercinta dengan Tuhan. Cinta yang diberikan Tuhan tidak untuk kita kembalikan lagi kepada-Nya sebagai bentuk terima kasih mahluk terhadap-Nya. Namun, cinta itu dianugrahkan hanya dan untuk kehidupan di dunia. Agar manusia manggunakan untuk kebaikan, keserasian dan mempertahankan ekositem yang ada di alam, karena kahidupan di dunia akan cepat hancur pada diri manusia sebagai penguasa alam. Manusia yang berbuat dhalim tidak akan tercegah dan terhentikan ketika mereka terus-menerus berbuat kemungkaran, kalau kita mengurangi fungsi kemanusiaan kita "Amar ma'ruf nahi mungkar". Untuk itu Allah tidak butuh dicintai.
Lalu dimana kedudukan Allah dalam cinta? Dalam hal ini kita perlu membedakan antara cinta kepada Allah dan cinta karena Allah. Cinta kepada alah sebagaimana dijelaskan di atas, tidak ada bedanya dengan cinta kita terhadap sesuatu diluar Allah. Etika rutinitas cinta yang kita lakukan akan sama dengan cinta kepada kekasih yang lain.
Kecintaan semakin tinggi akan melupakan tanggung jawab kehidupan (sebagaimana yang dilakukan sebagian sufi). Meskipun orang mempunyai rasa cinta yang tinggi terhadap sesuatu (Tuhan atau yang lain) akan lebih arif dalam berperilaku terhadap lingkungannya. Namun apakah mereka peduli untuk memperbaiki lingkungan masyarakat yang porak-poranda baik etika, moral maupun perilakunya. Yang jelas hidup tidaklah sendiri, ada manusia yag baik dan ada yang buruk. Kalau mereka dibiarkan dalam kejahatan, terus apa bedanya perilaku kejahatan dengan yang mengiyakan kejahatan.
Penguasa kedhaliman dan 'penghancur dunia, menggunakan kekuatan politik, ekonomi, social, budaya, teknologi dll. Maka bagaimana kita bisa memperbaiki kehidupan dunia jikalau kita tidak menggunakan kekuatan politik, ekonomi ataupun teknologi. Sangat disayangkan jika pengembangan wacana kehidupan akhirat lebih baik dari pada kehidupan di dunia hanya merupakan pelarian dari ketidakberdayaan manusia menghadapi percaturan kehidupan dunia yang lebih kompetitif dan membutuhkan banyak waktu, biaya serta tenaga untuk memperjuangkannya.
Maka dari itu, Allah tidak butuh cinta kita. Cinta kita bukan cinta kepada Allah namun cinta karena Allah. Allah menjadi sebab cinta kita. Cinta karena Allah akan mengakibatkan kehidupan ini lebih merupakan pengabdian semata. Munculnya ikhlas (lillahi ta'ala) adalah untuk cinta karena Allah bukan kepada Allah. Sehingga ada pembatasan wilayah sang mahluk dan sang Maha, bukan keterlibatan cinta keduanya.
Mahluk mempunyai ladang sendiri, yang menjadi garapan dari tugas yang diberikan oleh Allah dengan landasan cinta yang sudah dianugrahkan kepada mahkluq-Nya. Sehingga mahluq untuk mahluq bukan untuk pencipta mahkuq, karena beliau sudah Maha pecinta. Wallahu ‘alam