Ada beberapa hal yang harus disadari oleh manusia selaku sub dari satu kesatuan besar eksistensi alam semesta. Hal ini untuk menjaga keserasian alam dan menghindari kesalahpahaman manusia dalam menjalani hidup.
Manusia dengan inventaris perasaan yang dimilikinya adalah modal kesejahteraan dalam menikmati proses kehidupan ini, namun kadang perasaan menjadi bagian perusak dan penghancuran sendi-sendi kebahagiaan. Terlukanya anggota badan mungkin lebih ringan untuk diobati dari pada terlukanya perasaan. Terlukanya tangan akan memunculkan solusi dalam upaya pengobatannya, namun terlukanya perasaan dapat mengakibatkan kejadian-kejadian fatal pada diri seperti bunuh diri dsb.
Untuk itu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia khususnya ketika interaksi dengan manusia yang lainnya, maka ada beberapa yang harus diperhatikan oleh manusia yang sadar akan bagian dari kehidupan:
- Hidup di dunia harus siap dihina orang lain
- Harus siap menerima perbedaan
- Harus siap melihat keindahan
- Harus siap menerima perubahan
- Harus siap menerima perpisahan
Mungkin inilah yang dapat saya jelaskan untuk kelima hal di atas : pertama, hidup di dunia harus siap dihina orang lain. Setiap manusia pasti mempunyai kebaikan dan keburukan, kelebihan atau kekurangan. Semua ini adalah lebel wajib yang harus dimiliki dan disadari oleh makhluq yang terbatas yang hanya biasan dari kekuatan yang Maha kuat (Tuhan). Kesadaran seperti ini yang akan mampu membawa pada kedewasaan kita dalam menghadapi realitas kehidupan. Kita selalu menyadari bahwa disaat ingin berinteraksi dengan orang lain, yang kita harapkan adalah mereka mengenal apa yang ada pada diri kita. Tentunya, pengetahuan mereka tentang kita adalah berupa pengetahuan yang baik (kebaikan-kebaikan) yang kita miliki. Ini merupakan kesadaran sepihak dari seseorang yang ingin melakukan interaksi dengan orang lain. Namun kita tidak menyadari bahwa ada kesadaran orang lain yang mencoba memahami dari diri kita dengan berbagai sudut pandang. Justru, disaat kita menawarkan atau mempublikasikan kebaikan, disitulah tersirat kejelekan dan kekurangan yang kita miliki yang tidak sengaja tersampaikan kepada orang yang kita kenal. Memang bukan maksud kita, tapi benar adanya orang memahami apa yang mereka dapatkan dari kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengelak dari kejelekan yang kita miliki. Disaat itu pula orang akan melihat dan membicarakan apa yang kita miliki, apakah kejelekan atau keburukan. Biasanya pembicaan tentang kejelekan kita sebut sebagai (hinaan), sedangkan penyebutan mengenai kebaikan, kita sebut sebagai (sanjungan). Jika disaat yang sama kita juga menginginkan pujian, maka tidak perlu khawatir jika yang kita dapat adalah hinaan atau sejenisnya. Kita menginginkan penghargaan dan pujian, namun sayang jika kita tidak mau menerima cacian. Sepertinya kita adalah orang yang paling benar dan hanya memiliki kebenaran saja. Dengan bersikap demikian, bukankah kita malah tidak merepresentasikan diri kita sebagai manusia apalagi kita seharusnya sadar dengan wejangan sang Guru Agung kita Nabi Muhammad SAW, yang berabad-abad lalu mengatakan bahwa manusi tempatnya salah dan lupa. Maka, bukannya kita mencoba untuk memikirkan kenapa kita bisa salah dan lupa, namun bagaimana caranya menjadikan kita dapat lebih mengevaluasi setiap kesalahan dan kelupaan menjadi fasilitas mendekatkan diri pada kebenaran yang telah ditawarkan oleh Allah SWT.
Kedua, harus siap menerima perbedaan. Kadang memang seorang harus merasa kesal dengan suara sumbang di luar apa yang kita fikirkan sebelumnya. Perbedaan adalah rukun untuk menciptakan keserasian untuk menjaga distribusi amal pada setiap ciptaan-Nya, maka perbedaan adalah pasti. Bagaimana tidak pasti, kalaupun ada manusia yang dapat menjawab pertanyaan apakah ada kesamaan dalam setiap kehidupan seseorang dengan yang lain?. Kalau pertanyaan ini bisa dijawab, maka tidak jadi masalah bila perbedaan harus dipermasalahkan. Kemungkinan jawaban adalah kemiripan sejarah kehidupan bukan kesamaan.
Kenapa berbeda?. Menurut ceritanya, tidak ada orang yang dilahirkan dalam keadaan yang sama. Ketika dalam kandungan mereka juga diperlakukan yang berbeda. Ketika lahir mereka mendapatkan perlakuan yang berbeda pula, dari mulai pemberian makanan, pendidikan, fasilitas kehidupan, pendekatan social, lingkungan dll, maka keadaan tersebut mewajibkan adanya perbedaan dan keberagaman dalam kehidupan kita.
Ketiga, Harus siap melihat keindahan. Sering perilaku tidak menyenangkan, tindak kejahatan muncul akibat salah dalam menjaga diri untuk melihat keindahan. Pencurian terjadi karena diri tidak mampu menerima keindahan yang dimiliki orang lain. Perkosaan terjadi karena tidak mampu mengntrol keinginan diri melihat dan menikmati keindahan yang dimiliki orang lain. Pertengkaran dikarenakan tidak mampu menikmati perbedaan sebagai keindahan.
Biarlah keindahan tetap menjadi keindahan tidak perlu ada kepemilikan, kalau berujung pada pertengkaran. Allah menciptakan keindahan bukan untuk persengketaan dan perpecahan.
Keempat, Harus siap menerima perubahan. Sesuai dengan kemampuan berfikir manusia, perubahan tidak mungkin dapat dihindarkan dalam kehidupan. Perubahan adalah hal yang pasti, seiring dengan kepastian manusia untuk terus berfikir, dan berfikir pasti menimbulkan perubahan. Mengharapkan tidak adanya perubahan adalah sama halnya dengan mengharap seluruh manusia berhenti untuk memanfaatkan dan menfungsikan fasilitas Tuhannya yaitu hati dan fikirannya.
Kelima, Harus siap menerima perpisahan. sesuatu yang mustahil terelakkan, jika orang menginginkan pertemuan tapi tidak menginginkan perpisahan. Kita terlahir dengan hampa pengetahuan dan tidak mengenakan busana selembarpun, maka ketika mati di sanalah kita mulai meninggalkan semua apa-apa yang kita miliki. Apakah ada upaya manusia untuk dapat mengabadikan dari setiap kepemilikan yang pernah ia miliki menjadi kepemilikan abadi oleh manusia tersebut. Jika memang ada maka bolehlah manusia untuk tidak menerima adanya perpisahan.
Dari kelima prinsip tersebut harus disadari oleh setiap manusia yang hidup di dunia. Hal ini adalah rangkaian kejadian yang pasti, yang tidak perlu kita permasalahkan kenapa harus terjadi. Semua itu adalah ketentuan yang tidak perlu kita rubah dan memang bukan kewenangan kita untuk merubahnya.
Semua itu akan berubah menjadi kebahagiaan jika kita dapat mengambil pelajaran darinya. Maka hanya bagi orang-orang yang berfikirlah yang dapat mengambil pelajaran. Tidak perlu mengubah keadaan yang pasti adanya, namun cukup dengan perubahan sikap bagaimana cara menghadapinya. Wallahu ‘alam.