Ingat hukum Allah, bahwa setiap manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan. Sesuatu yang ideal hanyalah Allah semata. Dalam Istilah lain adanya kekurangan dan kelebihan pada tiap diri seseorang dapat disebut sebagai perbedaan. Kenapa manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan atau berbeda?. Pertama-tama, mari kita bahas tentang kelemahan dan kelebihan dulu, baru kemudian manusia yang seperti apa yang punya kelebihan atau kekurangan. Kekurangan adalah lawan dari kelebihan. Kekurangan adalah keadaan yang mempunyai nilai lebih kecil dibanding dengan yang lain. Kekurangan yang ada dalam definisi kehidupan ini adalah semata karena adanya perbandingan dengan sesuatu yang punya nilai lebih dari yang telah dinyatakan sebagai kekurangan. Untuk itu, definisi kekurangan dan kelebihan mengharuskan adanya ketentuan perbandingan. Sehingga, dimanapun kekurangan ada, pasti kelebihan juga ada. Seperti seseorang yang mengatakan ”kurang pintar”:, pasti sang pengamat terlebih dahulu harus melihat eksistensi (keberadaan) seseorang yang ”lebih pintar”.
Kenapa kekurangan menjadi ada?. Kekurangan ada karena ada obyek penyandang kekurangan dan pengamat /pembanding yang melihat suatu kekurangan. Untuk itu, kekurangan dinyatakan ada pada diri seseorang jika salah satu atau keduanya (obyek dan pengamat) menilai ada suatu kekurangan. Tentunya pasti ada parameter yang di buat oleh kedunya. Bisa jadi obyek memang dalam keadaan kurang atau sang pengamat yang kurang paham dengan definisi kekurangan atau salah dalam menilai kekurangan.
Kenapa ada kekurangan dan kelebihan pada manusia?. (1) Al-qur’an menyatakan ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(Al hujurat, 49:13). Manusia dilahirkan dalam keadaan yang berbeda, oleh orang tua yang berbeda, dibesarkan dengan pengetahuan yang berbeda, dididik dengan cara yang berbeda, diberi makan dengan menu yang berbeda, dalam kondisi cuaca, teritorial dan lingkungan yang berbeda, kadang ada yang mempunyai kecenderungan yang berbeda, dan berjuta-juta perbedaaan yang dapat menjadikan seseorang pasti tidak akan sama persis secara keseluruhan dengan seorang yang lain. (2) Hadist nabi mengatakan “al insanu mahalul khata wa nisya” jadi manusia itu tempatnya salah dan lupa. Salah dan lupa adalah kewajaran dari keterbatasan manusia, tapi bukan niatan tindakan untuk melakukan kesalahan dan kelupaan. Salah disebabkan karena kurangnya ilmu. Seperti orang yang salah memasukkan gula atau garam ke dalam segelas minuman, karena kurangnya ilmu untuk dapat membedakan antara gula dan garam. Lupa menjadi kewajaran manusia yang tidak dapat mengingat seluruh sejarah dalam hidupnya, karena keterbatasan kemampuan otak untuk menampung semua kejadian yang pernah dialaminya.
Dibenci seseorang pasti ada landasannya, kenapa seseorang benci pada kita. (1) Bisa jadi, mereka benci karena melihat ada kekurangan pada diri kita yang tidak disukainya. Untuk masalah yang ini, terdapat dua faktor kenapa seseorang melihat ada kekurangan pada diri kita, yaitu karena memang terdapat sesuatu kekurangan atau kesalahan pemahaman seseorang dalam melihat sesuatu pada diri kita sehingga dinilai sebagai kekurangan. (2) Mereka melihat kelebihan pada diri kita, sehingga timbul rasa iri hati atau dengki. Dengki ini disebabkan ketidakmampuan mengendalikan diri. Kemampuan mengendalikan diri didapat dari belajar akan hakikat kebenaan yang ada dalam kehidupan ini.
Bagimana menghadapinya ?. (1) Jika karena sebab yang pertama, berarti langkah yang harus kita lakukan adalah, (1) Tidak perlu bingung karena ada yang banci apalagi sakit hati. Tidak ada seorang manusiapun yang disukai semua orang. Pasti ada yang suka dan ada yang benci, mesti jumlah orang yang suka dan yang benci tidak dalam jumlah yang sebanding. Nabi yang maksum, tetap saja ada yang benci. Tokoh-tokoh yang paling berjasa terhadap dunia, pasti juga punya pembenci-pembenci. Dibenci seseorang tidaklah aneh.
Keinginan untuk selalu disukai setiap orang adalah wajar, tetapi menjadi nyata untuk disukai semua orang adalah mustahil terjadi. Seperti keinginan untuk selalu benar adalah wajar, tetapi menjadi kenyataan yang paling dan selalu benar adalah mustahil. Seperti kehendak untuk terhindar dari salah dan lupa, tapi tiap manusia punya keterbatasan pengetahuan dan ingatan. Sebagaimana kehendak untuk menjadi yang tak terbatas, tetapi manusia dalam keadaan keterbatasan.
Menginginkan selalu disukai adalah sama dengan menginkan hidup bukan menjadi manusia lagi, tetapi mendudukkan diri sebagai sesuatu yang paling benar dan ideal atau disebut sebagai Tuhan. Sedang definisi sudah jelas, ada pemisahan secara jauh siapa manusia dan siapa Tuhan.
(2) Evaluasi diri. Setiap manusia punya naluri untuk selalu bertambah baik. Sehingga manusia yang ber-naluri adalah mereka yang punya keinginan menjadi tambah baik. Menjadi tambah baik dapat dilakukan dengan cara mencontoh/menerapkan yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan kita atau dengan memperbaiki kesalahan demi kesalahan dalam hidup kita. Dibenci seseorang karena ada suatu kesalahan yang terdapat dalam diri kita, adalah modal untuk menjadi lebih baik dengan cara mengevaluasi dan mencari solusi kesalahan yang ada. Evaluasi diri, berarti menguji ulang kebenaran apa yang kita lakukan. Jika langkah pertama belum dapat diperoleh jawabannya, maka (3) Membuka diri akan saran dan kritik. Mencari tahu dimana kesalahannya, kepada mereka yang merasakan kukurangan kita. Berdiskusi untuk mencari kebenaran yang lebih tinggi. Kedua proses Ini disebut dengan muhasabah, evaluasi untuk perbaikan diri. Inilah yang dimaksud dengan proses taubah, memperbaiki diri.
(4) Jika masih tetap tidak juga mendapatkan kesalahan atau kita masih tetap optimis dan yakin dengan kebenaran yang ada pada diri kita, maka mungkin kita kurang bisa menjelaskan pada mereka tentang kebenaran yang kita lakukan. Sehingga, langkah yang harus ditempuh adalah dengan terus melakukan kebenaran yang ada dan berupaya mensosialisasikan kebenaran pada orang lain agar paham dan dimegerti. Inilah yang dimaksud dengan Amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Ini juga disebut dengan amal kebajikan, yaitu selalu mengamalkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Ini juga dimaksud dengan fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
(5) Jika langkah keempat berpotensi menjadi masalah sosial yang tak terkendali, maka tugas kita adalah menyerahkan kebenaran yang ada semua pada Allah. Kemudian, secara konsisten sesuai dengan fitrah manusia, mengulangi tahapan-tahapan dari 2 sampai ke-4 secara berulang-ulang sampai mendapatkan keteguhan kebenaran yang baru. Upaya ini dilakukan terus menerus oleh kehidupan manusia untuk menuju kepada kebenaran yang paling dekat dengan pemiliknya (Allah). Aktifitas kehidupan yang seperti ini disebut khalifah fil ardhi dalam konteks kehidupan bersosial.
Jika yang dihadapi adalah masalah yang kedua yaitu mereka iri terhadap kebaikan yang kita lakukan, maka dengan cara yang hampir sama dengan sulusi yang kedua di atas yaitu dengan terus berupaya melakukan kebaikan kepada mereka yang belum paham. Yakinkan diri bahwa kita masih tetap dalam keadaan benar. Bagaimanapun yang benar mempunyai nilai yang jauh berbeda dari yang salah. Yang benar pasti selalu diinginkan semua orang, bagi mereka yang dalam keadaan jujur pada hatinya dan tidak menjadi budak nafsu. Wallahu ’alam.