Wasiat kehidupan

Jangan sekali-kali memberikan kepercayaan kepada sesuatu sebagai pedoman hidup selain kebenaran (Allah). Jangan fanatic terhadap sesuatu kecuali kebenaran. Jangan mengidolakan dan membanggakan sesuatu selain yang benar. Jika hal tersebut kamu lakukan, maka suatu saat kamu pasti akan dikecewakan olehnya. Jangan salahkan dan jangan pernah kecewa, karena itu adalah konsekuensi dari keberpihakan yang salah. Dan sebaliknya, jika kita berpihak kepada kebenaran, maka kebenaran (Allah) tidak akan mengecewakan kita (huwarrohmanurrahim).

Tidak akan ada kata benar tetapi mengecewakan. Kalau masih ada kata mengecewakan berarti itu belum benar. Karena kebenaran bersumber penilaian manusia secara menyeluruh dengan kemampuan ilmu pengetahuannya yang diselaraskan dengan hati nuraninya. Saat inilah kita mendapatkan kehidupan, dan tak akan pernah dikecewakan.

Kahidupan hanya mimpi

“Seseorang yang bermimpi ketabrak oleh bus dapat membuka matanya lagi di rumah sakit dalam mimpinya dan memahami bahwa ia cacat, tetapi itu semua dalam mimpi. Ia juga dapat bermimpi meninggal dalam kecelakaan mobil, malaikat kematian merenggut nyawanya dan kehidupan akhirat di mulai, peristiwa yang terakhir ini di alami dengan cara yang sama dalam kehidupan ini yang sebagaimana mimpi – merupakan persepsi.

Di dalam dunia realitas kehidupan semua bisa disentuh dengan tangan dan dilihat dengan mata. Dalam mimpi juga terjadi “bisa menyentuh dengan tangan dan melihat dengan mata” tetapi dalam kenyataannya kemudian tidak mempunyai tangan, mata ataupun yang lain. Tidak ada realitas materi yang membuat benda-benda ini terjadi kecuali otak.

Apa yang memisahkan kehidupan nyata dari mimpi ?. Sebenarnya kedua kehidupan ini masuk menjadi ada adalah di dalam otak, ketika kita bangun dari mimpi tidak ada alasan logis untuk tidak berfikir bahwa kita telah memasuki mimpi yang lebih panjang yang disebut dengan  “kehidupan nyata”. Alasan kita menganggap khayal terhadap mimpi kita dan menganggap “nyata” terhadap dunia ini hanya merupakan hasil dari kebiasaan dan prasangka kita. Hal ini menjelaskan bahwa kita bisa dibangunkan dari kehidupan di dunia yang  kita tinggali saat ini. Seperti halnya dibangunkan dari mimpi.

Hal ini dapat dibuktikan lagi dengan menghubungkan syaraf secara pararel. Misalkan orang A dan B di hubungkan secara pararel, maka ketika A ditabrak mobil, mengalami koma, maka koma akan juga dialami oleh B sebagaimana yang dirasakan oleh A. Jadi mobil manakah yang nyata sesungguhnya menabrak orang itu?, kalau sama-sama merasakan tabrakan tersebut.

Seperti kita lihat, manusia tidak mungkin melampaui indranya dan melepaskannya. Dalam hal ini, jiwa manusia terbuka meskipun terhadap semua jenis gambaran kejadian fisik. Meskipun tidak mempunyai badan fisik dan tanpa keberadaan materi ataupun bobot material, manusia tidak mungkin menyadari hal ini karena menganggap kesan tiga dimensi ini nyata dan keberadaannya pasti, karena setiap orang bergantung pada persepsi yang dialami oleh organ-organ indranya. Saya tidak bisa mengamati apapun kecuali persepsi “David Hume (filsuf Inggirs).” Lalu, apa sebenarnya yang membuat kehidupan?. Kalau semua adalah persepsi, manusia juga persepsi. Lantas siapa yang mengamati dan melaksanakan kehidupan?.

           

 

Belajar tentang Cinta

Mungkin banyak manusia yang terjerumus dalam kenikmatan cinta. Kenikmatan ini memang timbul dari ungkapan cinta terhadap sesuatu yang dapat mengakibatkan bentuk kefanatikan dan pembelaan sehingga melupakan entitas yang lain selain dari yang dicintainya. Kefanatikan ini kemudian ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan yang berlebihan dan bahkan di luar nalar kemanusiaan, yang malah mengeluarkan fungsi sebenarnya dari potensi cinta yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Jika cinta dilakukan dengan cara yang berlebihan maka akan mengakibatkan kesakitan, keterikatan, menjadi pembelenggu, kesengsaraan, menyebalkan dan bahkan kematian yang tidak wajar. Jangankan Cinta, rosul-pun memperingatkan umatnya jika beribadah dilakukan dengan berlebihan. Kegiatan apapun jika dilakukan dengan berlebihan, maka akan keluar dari fungsi dan konteks aslinya. Allah telah mengetahui potensi dan kemampuan, maka berbuatlah sesuai dengan ketentuan-Nya.

Manusia cenderung lupa bahwa kelahirannya ke dunia disambut oleh cinta-cinta yang sebelumnya sudah bertebaran terlebih dulu. Perbuatan bapak, ibu, saudara, kakek, Nenek dll. Sangat mendukung kita dalam lahir untuk mengambil bagian dari alam ini. Kita tidak mungkin lahir ke dunia jika tidak ada rasa cinta yang menyambut kehadiran kita. Mungkin ibu kita sudah melakukan aborsi, jika di hati mereka tidak tertanam rasa cinta dalam menyambut kehadiran anaknya. Mungkin bumi akan menelan kita sebelum kita dilahirkan, jika alam menanti kehadiran kita dengan kemarahannya. Untuk itulah, manusia adalah bagian dari alam, dan alam pasti punya kasih sayang (cinta) untuk dapat dijadikan partner kehidupan yang indah dan berdampingan.


Cinta Manusia

Sangat disayangkan dan menyayangkan jika anugerah terindah dari Allah yang menghiasi dunia yaitu Cinta telah diperkosa oleh para pujangga-pujangga yang tidak bertanggung jawab, (ma'af) bukan bermaksud menghina mereka yang terlibat cinta. Obralan, buaian dan keberhasilan mereka dalam merajut kata-kata telah banyak membawa korban percintaan. Hanya gara-gara kedipan, senyuman, ungkapan dan aksi biologis yang lain, orang dengan mudah mengatakan “aku cinta kamu”.Sebenarnya yang paling tepat seperti halnya yang dikatakan oleh Aa'gym bukan aku cinta kamu namun (maaf) “aku nafsu kamu”. Inilah yang jauh lebih banyak beredar di pasaran dari pada arti sesungguhnya dari aku cinta kamu. Nafsuku yang telah bersandar pada dirimu, yang telah menuntun getaran bibir untuk mengatakan bahwa aku cinta kamu.

Sungguh sangat sedikit cinta manusia yang tidak dilandasi atas kebutuhan duniawi atau disebut sebagai landasan cinta. Dasar cinta pasti ada pada seorang pengekspresi cinta. Saya cinta kamu karena ..(sesuatu). Inilah yang disebut sebagai cinta karena sebab. Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu, (ma'af)entah berupa ketampanan parasmu, kekayaanmu, latar belakangmu dll. Yang jelas kamu harus membawa manfa'at bagi-ku, karena ada sesuatu yang harus aku dapatkan darimu. Semua ini berlandaskan pada nafsu, yang berwujud pada harta, tahta dan sex.

Lalu dimana istilah cinta (cinta tulus)? Kalau semua disandarkan pada nafsu. Maka yang ada hanyalah pembohong dan penghianat cinta. Kami lebih rela mengatakan aku nafsu kamu kerena kecantikanmu, hartamu dll. Ungkapan seperti inilah yang lebih mengekspresikan akan ketulusan hati sang pecinta, dari pada hanya mengeksploitasi cinta. Ini lebih bermakna dan mengena pada proses ketulusan menuju cinta.

Tebaran cinta selama ini mengindikasikan bahwa cinta sebenarnya telah mati (innalillah). Kematian yang menyedihkan dikarenakan pemilik cinta telah menjual begitu rendah harga dan derajatnya (masya Allah). Bukan mengaplikasikan dan menebarkan cinta, malah membungkus dan membuang cinta pada keranjang sampah kehinaan dan cinta yang ditebarkan hanya merupakan kedok-kedok cinta. Laknat bagi mereka yang telah mempolitisir cinta (ma'af pengonani cinta). Anugerah penghias dunia dirubah menjadi perusuh, penyebab konflik, peresah dan pengacau dunia.

Coba kita mendudukkan cinta sebagai onderdil mulya yang benar-benar menjadi amanat illahiyah. Ingat bahwa cinta bukan hanya milik seorang, kamu, aku atau dia, namun semua manusia, binatang, benda dsb, berhak mendapatkan pancaran cinta yang kita miliki. Allah menurunkan cinta ke dunia untuk dijadikan keindahan bagi pemegang otoritas cinta.

Cinta yang disarangkan pada satu obyek saja, merupakan kesalahan besar dalam mengaplikasikan cinta. Kita hidup adalah milik umum, kita dilahirkan ke dunia bukan hanya untuk bapak, ibu, ataupun kekasih bahkan untuk pribadi, namun semua berhak untuk mencinta dan memiliki kita. Kita adalah bagian dari alam dan alam adalah bagian dari kita. Kita tidak terlepas dari realitas alam dan alam jelas bukan terdiri dari manusia saja. Cinta kita pada kekasih telah menyempitkan makna, seolah-olah hidup hanya untuk si dia. Aku tak kan sanggup melanjutkan putaran dunia ini tanpa kau sebagai pengawal dan pendampingku." hampa terasa hidupku tanpa dirimu;(Ari Lasso)",”tak kan pernah ku teteskan buturan air mata kecuali untuk cinta (Rhoma),ungkapan inilah yang disebut atau dinamakan sebagai pendusta cinta.
Mungkinkah kita dilahirkan Just for him, for her or for it. Jawabnya jelas tidak, but for All. Kita tidak akan pernah lahir tanpa kasur, bantal, selimut, makanan, ibu, Bapak, Negara, Bahasa, Mbah dukun dan berjuta-juta lainnya yang tak dapat disebut lagi. Keterikatan kita pada realitas alam tidak terpisahkan, maka mereka berhak mendapatkan biasan cinta kita.

Cinta tidak kenal wilayah prioritas, hanya ataupun prosentase. Siapapun dan apapun perlu kita cintai, tidak 100%, 50%, 10% atau persen-persen yang lain. Semua sama, sayang kita pada seorang kekasih akan sama dengan kita sayang kepada batu, kasih dan perhatian kita pada kekasih akan sama kasih dan perhatian kita pada kucing. Bukannya kita mempersamakan antara manusia dengan kucing ataupun batu, namun hak mereka atas cinta sebagai anugerah Tuhan-lah yang sama. Maka setidaknya perlu kita pikir dan rasakan ulang bahwa kenapa kita harus stress tak dapat makan dan minum bahkan bunuh diri hanya karena kehilangan satu alokasi cinta (kekasih). Betapa hinanya hidup ini! Wallahu 'alam.

Sudah jelas bahwa, tiada daya kita mendistorsi makna cinta, kalau kita tidak ingin sesat oleh cinta yang kita guna-guna.

Banyak misteri yang harus diungkap pada cinta, apabila hati seseorang telah jatuh cinta, maka akan condong kepada yang dicintainya dan berusaha mendekatinya serta berjuang untuk meraihnya dengan berbagai cara. Sedangkan sisi lain ketika ada seseorang atau setiap apapun yang menghalangi atau merusak cintanya, maka mereka akan membencinya. Orang yang mempunyai rasa cinta terhadap kebersihan, pasti membenci kekumuhan. Sehingga ketika seorang membenci sesuatu, maka di batinnya atau terbit keinginan untuk mencoba melenyapkannya.

Cinta merupakan suatu kehidupan, bagi seseorang yang dianggap mati karena terhalangi olehnya. Ia merupakan cahaya bagi seseorang yang berada dalam lautan kegelapan, karena kehilangannya. Ia adalah dukun bagi orang-orang mistis, yang karena ketiadaanya seluruh penyakit bersarang, kesialan dan celaka akan terjadi. Ia juga merupakan fasilitas kebahagiaan yang jika seseorang tidak mendapatkannya maka hidupnya berarti kepedihan dan penderitaan.

Cinta adalah anugrah, karena merupakan anugrah maka sifatnya adalah agung. Cinta sejati akan menerima segala kekurangan-kekurangan, Siap berkorban dan tanpa pamrih. Seseorang yang benar-benar mencintai akan menjaga orang yang dicintai dengan sebaik-baiknya. Itulah cinta sejati, yang tidak hanya berlaku dalam konteks kemanusiaan, namun juga berlaku pada konsep ketauhidan (cinta kepada Allah)

           

 

Bagaimana Cinta kepada Allah

Rasa tresno mareng (kepada) Allah biasa didefinisikan sebagai Cinta yang tidak bisa dipisahkan oleh sesuatu apapun baik ruang maupun waktu. Cinta seperti hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT.

Cinta kepada Allah SWT harus ada pada tataran tertinggi dalam hati kita, yakni menjadi tujuan dan prioritas utama dalam hidup kita. Karena Allah-lah yang menciptakan kita, memberikan kehidupan kepada manusia, sehingga tidak sepatutnya seluruh perasaaan dan tindakan kita hanya untuk Allah semata.

Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Ibnu Arabi "Tidak ada yang mencinta dan dicinta kecuali Allah" (Wlian C. Clitic:2002). Perlu diperhatikan bahwa semua yang ada di kehidupan ini tidak ada yang abadi selamanya, sehingga imbas cinta dunia ini bersifat semu. Itulah hakikat cinta.

Ibnu Arabi terlebih Rumi, selalu mengingatkan para pembacanya bahwa cinta kepada mahluk harus merupakan cinta kepada Allah SWT. Hanya kebodohanlah yang menghalangi manusia dan memahami hakikat cinta.Cinta kepada Allah SWT dengan cinta kepada-Nyalah kita akan mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya di akhirat kelak.

Orang yang mencintai Allah SWT tidak akan pernah terpisah dari kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat, ketika cinta mereka telah sempurna, si pecintapun hidup dalam kebahagiaan merasakan penyatuan diri mereka dengan Yang Esa, yang mencintai dan dicintai. Mereka akan mendapatkan manisnya cinta labih dari apapun, yaitu kenikmatan surgawi, kebahagiaan seperti itulah yang akan membangkitkan semangat orang-orang yang mencintai Allah SWT untuk terus berjalan manuju kebenaran ilahi yakni dapat diimplementasikan dengan sikap atau perilaku yag terpuji.

 

Kritik atas cinta sufi

Ada sebuah pertanyaan besar, ketika kita dapat mmengamati fenomena social yang berada dalam masyarakat agamis sufistik. Seperti halnya pemahaman cinta yang dipandang dari sebagian versi tasawuf. Problem besar selama ini dari kecenderungan tasawuf adalah menjadikan mereka lebih memilih orientasi kehidupan akhirati dan melepaskan diri dari kehidupan realisme, dengan menganggap dunia dan isinya tiada artinya dan bahkan mereka meninggalkan kehidupan dunia yang sebenarnya merupakan tanggungjawab dari setiap manusia untuk memikul beban amanat dari Tuhan SWT.

Setiap tindak-tanduk para sufi, semuanya bermuara pada bentuk cinta yang mendalam terhadap kekasih tercintanya, yang paling layak untuk dicintai yaitu Allah. Sehingga konsekuensi apresiasi dari model pengungkapan cinta mereka setidaknya menjadi biang dari karakteristik kehidupan social para sufi, yang berbentuk pada orientasi akhirat an sich dan menafikan interaksi social dan segala problem masyarakat. Hal ini terlepas dari model tasawuf mana yang lebih benar dan salah (tasawuf falsafi atau sunni) dalam merepresentasikan Islam ketika hal tersebut coba untuk dipahami dari seseorang dengan latar belakang kemampuan dan interpretasi yang berbeda. Namun jelas tasawuf yang beredar dipasaran masih memperlihatkan perilaku normative ketasawufan sebagaimana dijelaskan di atas.

Dan inilah kedudukan cinta yang perlu dipertanyakan, ketika ada pemahaman mayoritas menyebutkan bahwa kedudukan cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT. Di dalam kenyataanya, cinta kepada Allah dan cinta kepada yang lain mempunyai kadar yang sama dan akan berimbas pada kehidupan yang sama pula. Artinya, cinta kepada Allah (sebagaimana yang dilakukan sebagian tasawuf) juga dapat mengakibatkan kita terlalu fanatic parsial terhadap Allah secara zat, dan kefanatikan itu tidak berimbas pada dimensi-dimensi kehidupan kita yang lain dalam mewujudkan civil society. Sama halnya dengan cinta terhadap seorang kekasih. Ketika sudah terbius dengan kecantikan atau ketampanan, terbius dengan untaian kata-kata yang indah sehingga meniang tiada hilang bagai bunyi terompet sangkakala. Sehingga ungkapan bagaikan firman, perlu dita'ati dan dipatuhi, lupa akan komunitas disekitar sehingga kehidupan manjadi lebih egois. Bias dan pancaran aura kemanfaatan manusia tiada lagi. Hidup hanya untuk diri sendiri, tidak peduli dengan penderitaan orang lain, tidak peduli dengan teriakan alam yang butuh pertolongan, cuek akan segalanya, yang penting saya bahagia ketika kencan dengan kekasih saya. Kekasih dalam hal ini, tidak terbatas dan terfokus pada satu obyek apakah Tuhan, manusia, hewan dan lain-lain. Karena kekasih merupakan obyek atau sasaran dari cinta, jikalau cinta sudah dapat menyusupkan kita pada penyempitan dunia dan makna hidup, maka sesungguhnya cinta yang satu ini telah menjadi penyakit besar yang sukar diobati.

Fungsi manusia sebagai kholifah fil arrdhi jelas bukan merupakan anjuran untuk kita bercinta dengan Tuhan. Cinta yang diberikan Tuhan tidak untuk kita kembalikan lagi kepada-Nya sebagai bentuk terima kasih mahluk terhadap-Nya. Namun, cinta itu dianugrahkan hanya dan untuk kehidupan di dunia. Agar manusia manggunakan untuk kebaikan, keserasian dan mempertahankan ekositem yang ada di alam, karena kahidupan di dunia akan cepat hancur pada diri manusia sebagai penguasa alam. Manusia yang berbuat dhalim tidak akan tercegah dan terhentikan ketika mereka terus-menerus berbuat kemungkaran, kalau kita mengurangi fungsi kemanusiaan kita "Amar ma'ruf nahi mungkar". Untuk itu Allah tidak butuh dicintai.

Lalu dimana kedudukan Allah dalam cinta? Dalam hal ini kita perlu membedakan antara cinta kepada Allah dan cinta karena Allah. Cinta kepada alah sebagaimana dijelaskan di atas, tidak ada bedanya dengan cinta kita terhadap sesuatu diluar Allah. Etika rutinitas cinta yang kita lakukan akan sama dengan cinta kepada kekasih yang lain.

Kecintaan semakin tinggi akan melupakan tanggung jawab kehidupan (sebagaimana yang dilakukan sebagian sufi). Meskipun orang mempunyai rasa cinta yang tinggi terhadap sesuatu (Tuhan atau yang lain) akan lebih arif dalam berperilaku terhadap lingkungannya. Namun apakah mereka peduli untuk memperbaiki lingkungan masyarakat yang porak-poranda baik etika, moral maupun perilakunya. Yang jelas hidup tidaklah sendiri, ada manusia yag baik dan ada yang buruk. Kalau mereka dibiarkan dalam kejahatan, terus apa bedanya perilaku kejahatan dengan yang mengiyakan kejahatan.

Penguasa kedhaliman dan 'penghancur dunia, menggunakan kekuatan politik, ekonomi, social, budaya, teknologi dll. Maka bagaimana kita bisa memperbaiki kehidupan dunia jikalau kita tidak menggunakan kekuatan politik, ekonomi ataupun teknologi. Sangat disayangkan jika pengembangan wacana kehidupan akhirat lebih baik dari pada kehidupan di dunia hanya merupakan pelarian dari ketidakberdayaan manusia menghadapi percaturan kehidupan dunia yang lebih kompetitif dan membutuhkan banyak waktu, biaya serta tenaga untuk memperjuangkannya.

Maka dari itu, Allah tidak butuh cinta kita. Cinta kita bukan cinta kepada Allah namun cinta karena Allah. Allah menjadi sebab cinta kita. Cinta karena Allah akan mengakibatkan kehidupan ini lebih merupakan pengabdian semata. Munculnya ikhlas (lillahi ta'ala) adalah untuk cinta karena Allah bukan kepada Allah. Sehingga ada pembatasan wilayah sang mahluk dan sang Maha, bukan keterlibatan cinta keduanya.

Mahluk mempunyai ladang sendiri, yang menjadi garapan dari tugas yang diberikan oleh Allah dengan landasan cinta yang sudah dianugrahkan kepada mahkluq-Nya. Sehingga mahluq untuk mahluq bukan untuk pencipta mahkuq, karena beliau sudah Maha pecinta. Wallahu ‘alam

 

Etika Hidup di dunia (bibit bahagia)

Ada beberapa hal yang harus disadari oleh manusia selaku sub dari satu kesatuan besar eksistensi alam semesta. Hal ini untuk menjaga keserasian alam dan menghindari kesalahpahaman manusia dalam menjalani hidup.

Manusia dengan inventaris perasaan yang dimilikinya adalah modal kesejahteraan dalam menikmati proses kehidupan ini, namun kadang perasaan menjadi bagian perusak dan penghancuran sendi-sendi kebahagiaan. Terlukanya anggota badan mungkin lebih ringan untuk diobati dari pada terlukanya perasaan. Terlukanya tangan akan memunculkan solusi dalam upaya pengobatannya, namun terlukanya perasaan dapat mengakibatkan kejadian-kejadian fatal pada diri seperti bunuh diri dsb.

Untuk itu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia khususnya ketika interaksi dengan manusia yang lainnya, maka ada beberapa yang harus diperhatikan oleh manusia yang sadar akan bagian dari kehidupan:

  1. Hidup  di dunia harus siap dihina orang lain
  2. Harus siap menerima perbedaan
  3. Harus siap melihat keindahan
  4. Harus siap menerima perubahan
  5. Harus siap menerima perpisahan

Mungkin inilah yang dapat saya jelaskan untuk kelima hal di atas : pertama,  hidup di dunia harus siap dihina orang lain. Setiap manusia pasti mempunyai kebaikan dan keburukan, kelebihan atau kekurangan. Semua ini adalah lebel wajib yang harus dimiliki dan disadari oleh makhluq yang terbatas yang hanya biasan dari kekuatan yang Maha kuat (Tuhan). Kesadaran seperti ini yang akan mampu membawa pada kedewasaan kita dalam menghadapi realitas kehidupan. Kita selalu menyadari bahwa disaat ingin berinteraksi dengan orang lain, yang kita harapkan adalah mereka mengenal apa yang ada pada diri kita. Tentunya, pengetahuan mereka tentang kita adalah berupa pengetahuan yang baik (kebaikan-kebaikan) yang kita miliki. Ini merupakan kesadaran sepihak dari seseorang yang ingin melakukan interaksi dengan orang lain. Namun kita tidak menyadari bahwa ada kesadaran orang lain yang mencoba memahami dari diri kita dengan berbagai sudut pandang. Justru, disaat kita menawarkan atau mempublikasikan kebaikan, disitulah tersirat kejelekan dan kekurangan yang kita miliki yang tidak sengaja tersampaikan kepada orang yang kita kenal. Memang bukan maksud kita, tapi benar adanya orang memahami apa yang mereka  dapatkan dari kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengelak dari kejelekan yang kita miliki. Disaat itu pula orang akan melihat dan membicarakan apa yang kita miliki, apakah kejelekan atau keburukan. Biasanya pembicaan tentang kejelekan kita sebut sebagai (hinaan), sedangkan penyebutan mengenai kebaikan, kita sebut sebagai (sanjungan). Jika disaat  yang sama kita juga menginginkan pujian, maka tidak perlu khawatir jika yang kita dapat adalah hinaan atau sejenisnya. Kita menginginkan penghargaan dan pujian, namun sayang jika kita tidak mau menerima cacian. Sepertinya kita adalah orang yang  paling benar dan hanya memiliki kebenaran saja. Dengan bersikap demikian, bukankah kita malah tidak merepresentasikan diri kita sebagai manusia apalagi kita seharusnya sadar dengan wejangan sang Guru Agung kita Nabi Muhammad SAW, yang berabad-abad lalu mengatakan bahwa manusi tempatnya salah dan lupa. Maka, bukannya kita mencoba untuk memikirkan kenapa kita bisa salah dan lupa, namun bagaimana caranya menjadikan kita dapat lebih mengevaluasi setiap kesalahan dan kelupaan menjadi fasilitas mendekatkan diri pada kebenaran yang telah ditawarkan oleh Allah  SWT.

Kedua, harus siap menerima perbedaan. Kadang memang seorang harus merasa kesal dengan suara sumbang di luar apa yang kita fikirkan sebelumnya. Perbedaan adalah rukun untuk menciptakan keserasian untuk menjaga distribusi amal pada setiap ciptaan-Nya, maka perbedaan adalah pasti. Bagaimana tidak pasti, kalaupun ada manusia yang dapat menjawab pertanyaan apakah ada kesamaan dalam setiap kehidupan seseorang dengan yang lain?. Kalau pertanyaan ini bisa dijawab, maka tidak jadi masalah bila perbedaan harus dipermasalahkan. Kemungkinan jawaban adalah kemiripan sejarah kehidupan bukan kesamaan.

Kenapa berbeda?. Menurut ceritanya, tidak ada orang yang dilahirkan dalam keadaan yang sama. Ketika dalam kandungan mereka juga diperlakukan yang berbeda. Ketika lahir mereka mendapatkan perlakuan yang berbeda pula, dari mulai pemberian makanan, pendidikan, fasilitas kehidupan, pendekatan social, lingkungan dll, maka keadaan tersebut mewajibkan adanya perbedaan dan keberagaman dalam kehidupan kita.

Ketiga, Harus siap melihat keindahan. Sering perilaku tidak menyenangkan, tindak kejahatan muncul akibat salah dalam menjaga diri untuk melihat keindahan. Pencurian terjadi karena diri tidak mampu menerima keindahan yang dimiliki orang lain. Perkosaan terjadi karena tidak mampu mengntrol keinginan diri melihat dan menikmati keindahan yang dimiliki orang lain. Pertengkaran dikarenakan tidak mampu menikmati perbedaan sebagai keindahan.

Biarlah keindahan tetap menjadi keindahan tidak perlu ada kepemilikan, kalau berujung pada pertengkaran. Allah menciptakan keindahan bukan untuk persengketaan dan perpecahan.

Keempat, Harus siap menerima perubahan. Sesuai dengan kemampuan berfikir manusia, perubahan tidak mungkin dapat dihindarkan dalam kehidupan. Perubahan adalah hal yang pasti, seiring dengan kepastian manusia untuk terus berfikir, dan berfikir pasti menimbulkan perubahan. Mengharapkan tidak adanya perubahan adalah sama halnya dengan mengharap seluruh manusia berhenti untuk memanfaatkan dan menfungsikan fasilitas Tuhannya yaitu hati dan fikirannya.

Kelima, Harus siap menerima perpisahan. sesuatu yang mustahil terelakkan, jika orang menginginkan pertemuan tapi tidak menginginkan perpisahan. Kita terlahir dengan hampa pengetahuan dan tidak mengenakan busana selembarpun, maka ketika mati di sanalah kita mulai meninggalkan semua apa-apa yang kita miliki. Apakah ada upaya manusia untuk dapat mengabadikan dari setiap kepemilikan yang pernah ia miliki menjadi kepemilikan abadi oleh manusia tersebut. Jika memang ada maka bolehlah manusia untuk tidak menerima adanya perpisahan.

Dari kelima prinsip  tersebut harus disadari oleh setiap manusia yang hidup di dunia. Hal ini adalah rangkaian kejadian yang pasti, yang tidak perlu kita permasalahkan kenapa harus terjadi. Semua itu adalah ketentuan yang tidak perlu kita rubah dan memang bukan kewenangan kita untuk merubahnya.

Semua itu akan berubah menjadi kebahagiaan jika kita dapat mengambil pelajaran darinya. Maka hanya bagi orang-orang yang berfikirlah yang dapat mengambil pelajaran. Tidak perlu mengubah keadaan yang pasti adanya, namun cukup dengan perubahan sikap bagaimana cara menghadapinya. Wallahu ‘alam.

           


 

Dibenci

Ingat hukum Allah, bahwa setiap manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan. Sesuatu yang ideal hanyalah Allah semata. Dalam Istilah lain adanya kekurangan dan kelebihan pada tiap diri seseorang dapat disebut sebagai perbedaan. Kenapa manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan atau berbeda?. Pertama-tama, mari kita bahas tentang kelemahan dan kelebihan dulu, baru kemudian manusia yang seperti apa yang punya kelebihan atau kekurangan. Kekurangan adalah lawan dari kelebihan. Kekurangan adalah keadaan yang mempunyai nilai lebih kecil dibanding dengan yang lain. Kekurangan yang ada dalam definisi kehidupan ini adalah semata karena adanya perbandingan dengan sesuatu yang punya nilai lebih dari yang telah dinyatakan sebagai kekurangan. Untuk itu, definisi kekurangan dan kelebihan mengharuskan adanya ketentuan perbandingan. Sehingga, dimanapun kekurangan ada, pasti kelebihan juga ada. Seperti seseorang yang mengatakan ”kurang pintar”:, pasti sang pengamat terlebih dahulu harus melihat eksistensi (keberadaan) seseorang yang ”lebih pintar”.

Kenapa kekurangan menjadi ada?. Kekurangan ada karena ada obyek penyandang kekurangan dan pengamat /pembanding yang melihat suatu kekurangan. Untuk itu, kekurangan dinyatakan ada pada diri seseorang jika salah satu atau keduanya (obyek dan pengamat) menilai ada suatu kekurangan. Tentunya pasti ada parameter yang di buat oleh kedunya. Bisa jadi obyek memang dalam keadaan kurang atau sang pengamat yang kurang paham dengan definisi kekurangan atau salah dalam menilai kekurangan.

Kenapa ada kekurangan dan kelebihan pada manusia?. (1) Al-qur’an menyatakan ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(Al hujurat, 49:13). Manusia dilahirkan dalam keadaan yang berbeda, oleh orang tua yang berbeda, dibesarkan dengan pengetahuan yang berbeda, dididik dengan cara yang berbeda, diberi makan dengan menu yang berbeda, dalam kondisi cuaca, teritorial dan lingkungan yang berbeda, kadang ada yang mempunyai kecenderungan yang berbeda, dan berjuta-juta perbedaaan yang dapat menjadikan seseorang pasti tidak akan sama persis secara keseluruhan dengan seorang yang lain. (2) Hadist nabi mengatakan “al insanu mahalul khata wa nisya” jadi manusia itu tempatnya salah dan lupa. Salah dan lupa adalah kewajaran dari keterbatasan manusia, tapi bukan niatan tindakan untuk melakukan kesalahan dan kelupaan. Salah disebabkan karena kurangnya ilmu. Seperti orang yang salah memasukkan gula atau garam ke dalam segelas minuman, karena kurangnya ilmu untuk dapat membedakan antara gula dan garam. Lupa menjadi kewajaran manusia yang tidak dapat mengingat seluruh sejarah dalam hidupnya, karena keterbatasan kemampuan otak untuk menampung semua kejadian yang pernah dialaminya.

Dibenci seseorang pasti ada landasannya, kenapa seseorang benci pada kita. (1) Bisa jadi, mereka benci karena melihat ada kekurangan pada diri kita yang tidak disukainya. Untuk masalah yang ini, terdapat dua faktor kenapa seseorang melihat ada kekurangan pada diri kita, yaitu karena memang terdapat sesuatu kekurangan atau kesalahan pemahaman seseorang dalam melihat sesuatu pada diri kita sehingga dinilai sebagai kekurangan. (2) Mereka melihat kelebihan pada diri kita, sehingga timbul rasa iri hati atau dengki. Dengki ini disebabkan ketidakmampuan mengendalikan diri. Kemampuan mengendalikan diri didapat dari belajar akan hakikat kebenaan yang ada dalam kehidupan ini.

Bagimana menghadapinya ?. (1) Jika karena sebab yang pertama, berarti langkah yang harus kita lakukan adalah, (1) Tidak perlu bingung karena ada yang banci apalagi sakit hati. Tidak ada seorang manusiapun yang disukai semua orang. Pasti ada yang suka dan ada yang benci, mesti jumlah orang yang suka dan yang benci tidak dalam jumlah yang sebanding. Nabi yang maksum, tetap saja ada yang benci. Tokoh-tokoh yang paling berjasa terhadap dunia, pasti juga punya pembenci-pembenci. Dibenci seseorang tidaklah aneh.

Keinginan untuk selalu disukai setiap orang adalah wajar, tetapi menjadi nyata untuk disukai semua orang adalah mustahil terjadi. Seperti keinginan untuk selalu benar adalah wajar, tetapi menjadi kenyataan yang paling dan selalu benar adalah mustahil. Seperti kehendak untuk terhindar dari salah dan lupa, tapi tiap manusia punya keterbatasan pengetahuan dan ingatan. Sebagaimana kehendak untuk menjadi yang tak terbatas, tetapi manusia dalam keadaan keterbatasan.

Menginginkan selalu disukai adalah sama dengan menginkan hidup bukan menjadi manusia lagi, tetapi mendudukkan diri sebagai sesuatu yang paling benar dan ideal atau disebut sebagai Tuhan. Sedang definisi sudah jelas, ada pemisahan secara jauh siapa manusia dan siapa Tuhan.

(2) Evaluasi diri. Setiap manusia punya naluri untuk selalu bertambah baik. Sehingga manusia yang ber-naluri adalah mereka yang punya keinginan menjadi tambah baik. Menjadi tambah baik dapat dilakukan dengan cara mencontoh/menerapkan yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan kita atau dengan memperbaiki kesalahan demi kesalahan dalam hidup kita. Dibenci seseorang karena ada suatu kesalahan yang terdapat dalam diri kita, adalah modal untuk menjadi lebih baik dengan cara mengevaluasi dan mencari solusi kesalahan yang ada. Evaluasi diri, berarti menguji ulang kebenaran apa yang kita lakukan. Jika langkah pertama belum dapat diperoleh jawabannya, maka (3) Membuka diri akan saran dan kritik. Mencari tahu dimana kesalahannya, kepada mereka yang merasakan kukurangan kita. Berdiskusi untuk mencari kebenaran yang lebih tinggi. Kedua proses Ini disebut dengan muhasabah, evaluasi untuk perbaikan diri. Inilah yang dimaksud dengan proses taubah, memperbaiki diri.

(4) Jika masih tetap tidak juga mendapatkan kesalahan atau kita masih tetap optimis dan yakin dengan kebenaran yang ada pada diri kita, maka mungkin kita kurang bisa menjelaskan pada mereka tentang kebenaran yang kita lakukan. Sehingga, langkah yang harus ditempuh adalah dengan terus melakukan kebenaran yang ada dan berupaya mensosialisasikan kebenaran pada orang lain agar paham dan dimegerti. Inilah yang dimaksud dengan Amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Ini juga disebut dengan amal kebajikan, yaitu selalu mengamalkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Ini juga dimaksud dengan fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

(5) Jika langkah keempat berpotensi menjadi masalah sosial yang tak terkendali, maka tugas kita adalah menyerahkan kebenaran yang ada semua pada Allah. Kemudian, secara konsisten sesuai dengan fitrah manusia, mengulangi tahapan-tahapan dari 2 sampai ke-4 secara berulang-ulang sampai mendapatkan keteguhan kebenaran yang baru. Upaya ini dilakukan terus menerus oleh kehidupan manusia untuk menuju kepada kebenaran yang paling dekat dengan pemiliknya (Allah). Aktifitas kehidupan yang seperti ini disebut khalifah fil ardhi dalam konteks kehidupan bersosial.

Jika yang dihadapi adalah masalah yang kedua yaitu mereka iri terhadap kebaikan yang kita lakukan, maka dengan cara yang hampir sama dengan sulusi yang kedua di atas yaitu dengan terus berupaya melakukan kebaikan kepada mereka yang belum paham. Yakinkan diri bahwa kita masih tetap dalam keadaan benar. Bagaimanapun yang benar mempunyai nilai yang jauh berbeda dari yang salah. Yang benar pasti selalu diinginkan semua orang, bagi mereka yang dalam keadaan jujur pada hatinya dan tidak menjadi budak nafsu. Wallahu ’alam.

 

Bingung

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung , lalu Dia memberikan petunjuk.(Adh dhuha, 93:7)

Bingung adalah keadaan bimbang untuk menjatuhkan pilihan.

Bingung disebabkan karena (1) kurangnya ilmu/pengetahuan dalam memahami setiap pilihan.(2) Bisa juga karena ilmu/pengetahuan sudah cukup, tapi tidak ada keberanian/takut untuk melangkah.

 

Prinsip dari perjalanan kehidupan adalah memilih yang terbaik diantara pilihan yang ada. Ingat!, di dalam setiap kejadian atau sebuah pilihan pasti terdapat kebaikan dan keburukan. Hal ini karena sifat sesuatu di dalam kehidupan ini yang terbatas, karena selain Allah semua serba terbatas dan memiliki kekurangan. Untuk itu tidak baik memandang kebaikan saja atau keburukan saja, tapi keduanya adalah kenyataan sebagai referensi untuk menjatuhkan pilihan.

 

Pilihan itu bukan menginginkan kebaikan (absolute), tapi memilih yang terbaik. Untuk mendapatkan yang terbaik tidak ada jalan lain kecuali dengan mencari tahu (ilmu). Seorang yang bingung biasanya kurang tahu bagaimana caranya memandang kehidupan. Artinya dari segi ilmu, pengetahuan dan hati dapat dipastikan bahwa pilihan-pilihan jika dibuat peringkat, maka ada yang menduduki peringkat bawah sampai dengan yang teratas. Orang yang bingung tidak dapat membuat skala perbedaan atau peringkat pada pilihan. Biasanya mereka tidak memandang secara proporsional, dan kemudian tidak mencocokannya dengan kebutuhan. Sesuatu di dunia ini pasti baik karena Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa fungsi dan makna, tapi apapun di dunia ini juga menjadi jelek jika manusia tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jadi sesuatu itu akan menjadi baik jika manusia tahu akan fungi dan disesuaikan dengan kebutuhan. Jadi segera cari tahu dan perbanyak ilmu dan pengetahuan.

 

Untuk orang-orang yang punya kendala karena takut mengambil keputusan mungkin disebabkan karena anggapan yang salah. (1) Memandang sesuatu sebagai masalah yang besar. Sebenarnya pilihan kehidupan ini tidak ada yang besar atau kecil, semua sama-sama saja. Mungkin manusia sering mengukurnya dengan materi sehingga menganggap ada masalah besar dan kecil, padahal menyikapi masalah bukan karena materi tapi karena kualitasnya. Jika keadaan harus memilih, kanapa tidak memilih yang terbaik, walaupun yang tidak terpilih nilainya juga tidak jelek. Kecuali jika pilihan memberikan kesempatan pilihan untuk tidak memilih, maka tidak memilih adalah yang terbaik pada saat itu. Tetapi harus diketahui, tidak memilih adalah sebuah pilihan.

(2) Ada yang takut dengan perubahan ketika pilihan telah dijatuhkan. Jangan takut perubahan, karena orang bijak berkata “justru yang pasti itu adalah perubahan itu sendiri”. Inilah kenyataan. Kehidupan ini bukan sesuatu yang belum nyata. Artinya, bukan sesuatu yang masih dalam pilihan, tapi merupakan hasil dari memilih. Jadi, tidak ada keraguan untuk memilih, karena kehidupan bukan di dalam “andai”, tapi di dalam pelaksanaan yang nyata atau sesuatu yang telah dilakukan atau sedang berjalan.

Baik dan buruk belum dapat dinilai, sebelum pilihan dijatuhkan. Semua masih dalam kemungkinan jika belum dilaksanakan. Menjadi baik dan buruk suatu keadaan bukan semata karena keadaan tapi dominasi sikap menghapi keadaan. Untuk itu, memilihlah setiap saat, tapi jika kita memilih kebingungan hal itu tidak bisa disalahkan, karena juga merupakan pilihan. Tapi ingat!, kenyataan manusia tidak ingin hidup dalam kebingungan. Demikian juga dengan anda!. Wallahu ‘alam.

Home

bahagia.jpgHidup dan kehidupan selalu menjadi permasalahan. Kadang orang harus mencari hidup dan kehidupan, bahkan tidak jarang berkeputusan harus segera mengkhiri kehidupan. Tidak aneh jika seorang hidup tapi tidak memiliki kehidupan. Ada juga yang merindukan kematian justru untuk mendapatkan kehidupan.
Itulah masalah kehidupan dan kehidupan dalam permasalahan. Tapi mungkin dengan adanya tulisan ini berarti telah membuktikan benar-benar adanya kehidupan. Kumpulan tulisan beserta nasihat-nasihat orang-orang bijak ini setidaknya menjadikan gambaran kehidupan dari seorang yang juga sama-sama merasakan sandiwara kehidupan. Seorang yang hanya memikirkan dan berbuat kebaikan akan sangat berharga arti pengalaman atau wasiat dari kehidupan siapa dan apapun. Semua ini berdasar keyakinan bahwa tiap orangpun tahu bahwa kebaikan adalah inti dari kehidupan.

Selamat datang di dunia kebahagiaan
Kami tidak memberikan kebahagiaan, tapi akan mengajarkan bagaimana hidup bersama dengan kebahagiaan. The happy blog, berjuang merubah dunia menjadi indah dimata siapapun. Tidak ada yang salah dalam kehidupan ini, tapi kenapa masih banyak orang yang salah dalam menyikapi kehidupan ini.
Satu kata kunci, kebagiaan jangan dicari tapi diciptakan!

Ada pesan, pengajaran sejati bukan diberikan oleh metode, tapi oleh ketulusan hati. Demikian juga dengan pelajar yang baik bukan dimiliki oleh yang mengerti, tapi yang mengikuti dan menjalankan dengan sepenuh hati.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.